Home Categories Tags About
· 8 min read · by Pep Skipepep

Funiculi Funicula '2': この嘘がばれないうちに (Kisah-kisah yang Baru Terungkap)


Hari ini libur. Gua isi dengan baca novel ini sampe habis seharian. Sequel dari novel sebelumnya yang udah di post disini. Gua nyari-nyari info bahwa ternyata masih ada 2 jilid lagi untuk series ini. Saat ini, Gramedia masih cetak 2 jilid pertama dan jilid 2 ini cocok sebagai penutup sementara sebelum Gramedia lanjut cetak jilid 3 dan 4. #RipiwJujurDariPepski buat novel luar biasa karya Toshikazu Kawaguchi.


Summary

Cerita dimulai 6 tahun setelah Kei Tokita meninggal. Disaat bersamaan, Miki Tokita telah lahir. Meskipun begitu, keseharian kafe Funiculi Funicula tidak berubah. Orang-orang masih kerap datang untuk meminta suatu permintaan yang tidak lazim di tempat lain tapi lumrah di kafe ini. Menjelajahi waktu. Peraturan menyebalkan itu masih tetap berlaku. Namun, kisah-kisah yang dijelaskan di jilid ini secara perlahan mengungkap plot yang masih janggal bagi pembaca.

Yah, seperti biasa.

⚠️ SPOILER ALERT!!!!!!! ⚠️


Komentar untuk Jilid Ini

Menggunakan formula yang sama dengan jilid sebelumnya, novel ini dibagi menjadi 4 cerita.

Sahabat

Bercerita tentang Gotaro dan Shuichi, sahabat sejati yang telah berpisah setelah 22 tahun. Setelah Shuichi meninggal, Gotaro mewarisi anak yang ditinggalkannya, Haruka. Sampai saat tiba Haruka akan menikah, Gotaro ingin memberi tahu bahwa ia bukan ayah yang sebenarnya dan ingin mengenalkan Shuichi kepadanya.

Mungkin ini cerita yang paling cukup sentimental (entah ini diksi benar atau tidak) dari seluruh bab di jilid 1 dan 2. Penggambaran persahabatan Gotaro dan Shuichi digambarkan secara detil sehingga pembaca bisa menangkap dengan jelas watak dan interaksi antar karakter. Ditambah kepribadian Shuichi yang cepat tangkap membuat interaksi jadi semakin mantap. Karena Shuichi telah meninggal, tentu saja emosi yang hadir sangat tajam. Apalagi Gotaro telah "diselamatkan" oleh Shuichi, jadi tentu saja Gotaro merasa bersalah karena ia menganggap telah membohongi anak sahabatnya. Namun, Shuichi paham itu dan menenangkannya. Cerita ini menurut gua lebih ke 'hiburan' sih dibanding mengambil pelajaran. Meskipun tetap saja ada sesuatu yang bisa diserap dari bab ini. Gua taruh di akhir bagian ini.

Ah, selain itu, pertanyaan gua di bagian "Komentar" di postingan jilid sebelumnya sedikit-sedikit mulai terkuak di bab ini. Sesuai prediksi gua, author simpan itu semua untuk akhir.

Ibu dan Putra

Salah satu peraturan yang ada di kafe ini jika seorang pengunjung ingin menjelajahi waktu adalah "habiskan kopinya sebelum dingin". Karena jika dilanggar, maka pengunjung tersebut akan menjadi hantu di kafe itu. Tak diduga, ada pengunjung yang ingin memanfaatkan hal itu untuk bunuh diri.

Yukio Mita, seorang pengrajin tembikar di Kyoto, merupakan anak dari Kinuyo Mita, seorang pelanggan Funiculi Funicula selama berdekade-dekade. Di bab sebelumya, pembaca dikenalkan dengan Kyoko Mita, anak Kinuyo yang lain. Kinuyo yang sedang berjuang melawan kanker akhirnya harus kalah dan meninggal. Yukio tidak tahu berita itu. Ketika ia akhirnya tahu pun ia tidak mempunyai ongkos untuk kembali ke Tokyo. Setelah ia sampai di Tokyo, destinasi yang ia tuju adalah kafe yang menjadi langganan ibunya. Ia meminta untuk menemui ibunya di masa lalu. Setelah ibunya meninggal, ia merasa benang tegang dalam dirinya telah putus. Ia pun enggan untuk kembali ke masa depan.

Bab ini jujur rada kurang menarik sih bagi gua wkwkwk. Entah kenapa kurang sreg aja di bab ini. Mungkin karena sikap pesimistis yang ditunjukkan Yukio di bab ini. Tapi tetap ada pelajaran yang menarik sih. Manusia adalah makhluk sosial. Oleh karena itu, nyaris 100% manusia akan membutuhkan manusia lain. Manusia akan berhubungan dengan manusia lain. Hubungan tersebut ada yang longgar, ada yang erat. Jika hubungan manusia dengan manusia lain sudah erat, maka kebahagiaan kita adalah kebahagiaan mereka. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan kita. Begitu juga sebaliknya. Jika kita terus menerus kelam, itu akan membawa orang terdekat kita menjadi kelam.

Kekasih

Fumiko, kali ini dengan tambahan nama belakangnya, Kiyokawa, kembali hadir di bab ini. Bersama dengan Katsuki Kurata, koleganya di kantor dan Asami Mori, yang juga seorang koleganya. Keduanya merupakan sepasang kekasih, hingga maut memisahkan mereka.

Dari awal bab ini, pembaca langsung disajikan cerita tentang Kurata yang pergi ke masa depan untuk menemui Asami. Tujuannya hanya untuk memastikan kekasihnya bahagia setelah kepergiannya. Ceritanya pas, tidak terlalu membuat pembaca emosional dan tentu saja tidak buruk. Di akhir bab ini, ada sesuatu yang membuat our chad berpikir.

Suami dan Istrinya

Kiyoshi, seorang detektif yang telah berusia 60 tahun, muncul di awal bab 2 untuk bertanya di kafe tersebut, "apa hadiah yang cocok untuk hadiah ulang tahun istrinya?". Setelah Kazu Tokita memberikan jawabannya, ia pun pulang. Beberapa hari setelahnya ia muncul kembali dan meminta untuk dibawa ke masa lalu untuk memberikan hadiah tersebut. Nagare pun heran karena jika ia ingin memberikan hadiahnya, untuk apa jauh-jauh ke masa lalu? Namun, Nagare ceroboh telah bertanya seperti itu karena istrinya sudah meninggal 30 tahun yang lalu. Kiyoshi pun berpetualang di masa lalu namun kali ini bukan Kazu sebagai "kondektur"-nya, melainkan Miki Tokita, anak dari pemilik kafe yang telah menginjak usia 7 tahun minggu lalu.

Cerita ini menyadarkan pembaca bahwa setiap orang berhak bahagia. Berbagai penghalang seharusnya tidak membuat seseorang terus menerus menjadi kelabu. Berbagai kesalahan telah dibuat, terkadang kesalahan tersebut tidak mampu diperbaiki. Namun, bangkit dan menjadi lebih tegar adalah pilihan yang tepat. Selain itu, gua merasa cerita ini berkisah tentang Kiyoshi dan Kimiko, namun seolah-olah ditujukan untuk tokoh lain, Kazu Tokita.

⚠️ BATAS SPOILER KERAS !!! ⚠️

Kazu Tokita

Setelah selesai baca jilid 1, pembaca pasti bertanya-tanya, "Siapa si Kazu Tokita ini?". Ternyata ada beberapa peraturan tambahan di kafe ini. Kopi yang bisa membawa seseorang ke masa lalu hanya bisa dituangkan oleh perempuan dari keluarga Tokita. Dengan syarat, perempuan tersebut tidak boleh mengandung anak perempuan. Inilah kenapa Kazu tidak bisa membawa Pak Kiyoshi kemasa lalu di bab 4.

Untuk hantu itu, sudah gua duga pasti ada hubungan yang dekat dengan Kazu, dan yak, itu adalah Kaname. Seseorang yang telah dibahas dari bab 1 dan merupakan ibu dari Kazu. Ketika ia pergi ke masa lalu, Kazu lah yang menuangkan kopi untuknya. Sejak saat itu, Kazu berubah menjadi pendiam. Itulah kenapa di sepanjang novel ini, author sering kali menulis pandangan Kazu yang dingin.

Meskipun begitu, pada akhirnya tetap ada suatu yang mengganjal dan menurut gua seharusnya diselesain di jilid ini. Kenapa ibunya pergi ke masa lalu? Kenapa ibunya melewati batas waktu dan jadi hantu? Kalo cuma karena kecerobohannya doang, argh, kurang kurang!!! Di seluruh jilid ini isinya tentang orang meninggal semua loh! Menurut gua pasti ada alasan yang menarik. Belum baca jilid 3 dan 4 karena Gramed belum terbitin terjemahannya, tapi jika beneran dijelasin di sana, menurut gua bagusan dijelasin di sini.

Menurut gua, novel di jilid ini ditujukan untuk Kazu. Bagaimana ia pada masa mudanya, bagaimana cara ia memandang sekitar, serta bagaimana ia hidup. Disini jujur aja gua suka banget karena Kazu itu seolah-olah bukan seorang tokoh utama di novel ini (dan yang bilang ia tokoh utamanya tentu saja bisa diperdebatkan) tapi sebenarnya ia salah satu tokoh paling penting di novel ini. It's meme time..

Sumber: Know Your Meme Indonesia

Mengenai Funiculi Funicula dan kemampuannya bisa membawa seseorang ke masa lalu... Hmm... Tentu pembaca tidak mengharapkan penjelasan saintifik untuk ini kan?

⚠️ BATAS SPOILER KERAS !!! ⚠️

Di jilid ini, seluruh ceritanya tentang menghadapi orang yang sudah tiada. Memang benar kematian adalah salah satu musibah yang berat bagi orang yang ditinggalkan. Terutama jika itu orang yang disayangi. Dari situ tentu bisa diambil pelajaran bahwa, jangan sia-siakan hidup.


Rating

Agak sulit menilai jilid ini tanpa membandingkan jilid sebelumnya. Menurut gua, jilid sebelumnya jauh lebih berwarna dibanding jilid ini. Di jilid ini terkesan lebih monoton dibanding jilid sebelumnya. Soalnya isinya benar-benar menghadapi orang meninggal semua. Tapi, melihat Kazu.. eh.. yah, begitu (takut spoiler) tentu gak kaget ngeliat rating di Goodreads lebih bagus jilid ini dibanding sebelumnya (bahkan di antara seluruh jilid yang telah dirilis). Dari situ, gua kasih jilid ini nilai yang sama dengan jilid sebelumnya. 9/10 (Di Goodreads gua kasi 5/5 sih wkwkwkwk). Sekian.

Eh? Pros and Cons? Baca artikel diatas aja wkwkwk

Sayonara!

Ah! Ied Mubarak!

Ditulis pada 29 Juni 2023 ba'da Isya di Depok.

Kondisi mood: Netral.